Racun Rindu

Racun Rindu

Ku sudutkan malam dengan bungabunga indah
Meracuni rindu yg membulu darah.
Satu kata yg bermaknakan aksara tak bisa goyah naluri yg masih terselimuti embun.

Air yg mengalir
Udara yg berhembus
Petir yg menyambar
Hujan yg turun
Langit yg kelam
Darah yg mendesah
Jantung yg berdebar
Nadi yg bernyawa
Itu adalah rindu.

Bilamana racun yg mematikan ini adalah rindu?
Izinkan ku tawar racun ini dengan menyentuh bibirmu.

#puisi #musikalisasipuisi #poetry #poem #sastra

Iklan

Love’r koran

Dalam rinai hujan membakar kulit

Di alunan lengking suara telolet
Ia tetap terdengar meski tak melihat
Ia tetap menggali hartakarun persimpangan.

Bulan mencacimaki,
Matahari berpurapura dingin.
Tapi keluarga terbayang di adimarga.

Koran.. koran….
Korannya pak, buk?
Serpihan kertas yg mengkertas,
Untuk periuk nasi yg gk akan basi.

Syair tanpa Nada

Selalu ada syair saat kau ingat Tuhan
Selalu ada doa selama kau bersama Tuhan.
Kau syair tanpa nada
Kau puisi tanpa bait
Kau yg menghanguskan raga ini
Dengan lengking suara syairmu membuatku serasa abioginesis.
kau puisi yg mencerna isi dalam hati
Mebuatku mati untuk mencitaiNya
Tanpa aku ingat lagi Dunia.

Skripsi-ku

Pergelutan-ku dengamu belum menuai

Kau masih mengangan

Kau belum lepas

Butiran kata yg kurangkai jauh dari mimpi

Demi masa depan ku urungkan hobi, ku gapai cita-cita.

Langkah kaki bedecak tanpa labuh-labuh yg bersekutu 

Demi kau ku tegakan pena, Kubualkan cinta.

Gemetar hati mencaci maki 

Demi kau ku halusinasikan mimpi, kubulatkan janji.

Berontaklah sekarang tak ada lagi yg mengatasi

Demi kau ku hapus penat, ku iksyaratkan sepi

Demi kau skripsi ku berjanji.

BATANGHARI

​Membentang batanghari ke timur mengingatkanku pada Prabu

Melamun ombak seakan menerjang badai-badai buai

Serpa gunung-gunung kerinci bersaksi

Gemetar hati para kiyai

Berdesir berontak darah abdi

Tak ada tempat untuk bersembunyi

Hanyalah menunggu mati yg hakiki.

     

                         Jambi, 11 Des 2016

Kita Bukan Turis

​Sebentang tanah tidak akan terserahkan 

Meski darah bercucuran

Setetes lautan akan terenang 

walaupun trdampar di pesisir

Sepucuk putik tak akan terpetik

Demi untuk ranting yg runcing.

Sepenggal do’a tak akan bisa terganti

Jangan ragukan kami dengan mati.

Ini tanah air kita

Tanah yg telah menjadi daging

Air yg telah menjadi darah

Kita bukan turis yg merintis 

ini aksiomatis bukan berantai politis.  
                             Jambi, 2 Des 2016

Malam

​Aku bersama malam

Malam yg bersamaku.

Apakah akan kutunggu kau dengan embun?

Akankah aku aksiomatis dengan bintang yg memanggil gigil lara ini?

Aku bias dengan malam

Bukan cuma gelap yg kau beri tapi dingin dn juga khamir.

Larut lh kau pada seruanmu

Aku tak bisa menjadi gelap pasti itu menakutimu, apa lagi jadi dingin yg slalu mendekapimu.

Aku hanya bisa menjadi bayangan yg selalu ada di saat kau masih bernyawa.

Aku melawan angin

​Kutampar angin seakan masuk kedalam tubuhku

Gerakan ini mengalunkan gemulai tangan bak menari

Kupejamkan mata ku ikuti arahmu

Ruhku terbang bersma melawan darahku

Kakiku mulai melangkah mengikutu gerakan tanganku

Aku serasa tak injak tanah 

Ku pukul dan kubelit tanganku seakan ada yg menyerangku

Mulutku selalu menyrbut laillahaillah muhammad rasulullah

Aku melawan angin yg masuk menjelma dalam darahku.

Mungkin juga tentara belanda yg menjelma datang menyerangku.